jump to navigation

Live In ‘08

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –> Live In Perdana

Tidak pernah saya bayangkan bagaimana kalau harus live in di pedesaan yang letaknya di pedalaman dan jauh dari kehidupan kota, minim penerangan, dan lokasi rumah yang berjauhan. Ternyata kenyataannya tidak seperti yang saya bayangkan, memang di desa tempat saya live in memiliki banyak kekurangan tapi semua itu tertutupi dengan keramahtamahan penduduk yang ada di desa tersebut. Saya merasakan rasa kekeluargaan yang sangat tinggi antar penduduk yang ada di Kulon Progo, Jogjakarta. Kehidupan masyarakat di sana masih sangat sederhana. Rumah-rumah mereka pun masih ada yang beralaskan tanah. Mata pencaharian mereka adalah bertani dan berternak, hampir semua dari warga di sana bertani kopi dan setiap rumah di sana pasti memiliki ternak kambing. Kambing-kambing mereka ada yang pernah dijual hingga 15 juta rupiah, hanya dari situlah penghasilan mereka. Di sana kami juga ikut merayakan 17 Agustusan bersama penduduk, ada beberapa teman saya yang mengikuti lomba panjat pisang (pinang diganti pohan pisang). Meskipun tidak sampai ke puncak tapi kami semua merasa senang dengan keikutsertaan sekolah kami dalam acara lomba tersebut.

Kegiatan live in ini juga sangat bermanfaat bagi saya, karena saya dapat mengetahui sifat teman-teman yang tadinya tidak saya ketahui. Ketika berada di sana, saya tingal di lingkungan Patihombo dengan keluarga Bpk. Marjosuwito yang tinggal bersama istri, anak, menantu, dan cucuknya. Keluarga ini termasuk keluarga yang sederhana dibandingkan dengan keluarga yang lain, walaupun begitu mereka tidak pernah mengeluh dan tidak pernah berhenti berusaha agar impian mereka tercapai. Saya merasa malu dengan keluarga Bpk. Marjo karena dengan fasilitas yang saya dapat di Jakarta saya malah tidak berusaha untuk maju dan malah terbawa dengan kemudahan yang diberikan kepada saya.

Selama live in ini saya memiliki pengalaman yang menarik yaitu saya harus berjalan cukup jauh untuk berkumpul dengan teman-teman. Meskipun saya hanya lima hari berada di sana tapi saya sudah merasa lelah untuk berjalan karena jaraknya yang sangat jauh. Bahkan ada teman saya yang harus berjalan selama 30 menit hanya untuk ke kamar mandi. Saya kagum dengan penduduk di sana, karena meskipun jarak yang mereka tempuh lumayan jauh tapi mereka tetap bersemangat melakukan aktivitas mereka sehari-hari. Saya juga terheran-heran karena meskipun lokasi rumah penduduk yang berjauhan, mereka tetap tahu rumah-rumah penduduk yang ada jauh dari rumahnya.

Seharusnya kita dapat mengambil contoh rasa kekeluargaan mereka yang sangat tinggi dan menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari, dengan begitu kita akan merasakan kedamaian di lingkungan kita berada. Kadang-kadang kemewahan dan kemudahan yang diberikan kepada kita malah akan membuat kita malas, maka dari itu kita harus belajar untuk memanfaatkan semua yang telah diberikan kepada kita agar dapat meraih semua yang kita impikan, tapi jangan lupa untuk selalu berdoa agar semua impian kita dapat tercapai. Sekian pengalaman saya ketika live in di Kulon Progo, Jogjakarta yang dilaksanakan pada tanggal 14 – 19 Agustus 2008. Terima kasih.

Live in

Live in

Lukas Jaya Putera.

Komentar»

No comments yet — be the first.